Ulti Clocks content

Jadwal Shalat

KRITERIA LAHAN KRITIS

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Terakhir Diperbaharui (Selasa, 10 Januari 2012 13:35) Ditulis oleh Adhari, SST (Penyuluh Kehutanan) Senin, 02 Januari 2012 17:27

Lahan dengan segala kelengkapannya termasuk tanah, merupakan salah satu unsur lingkungan yang sangat penting karena di atas lahan inilah manusia dan seluruh kehidupan di atas bumi inibertumpu. Hal ini menunjukan bahwa setiap orang selain mempunyai hak untuk menikmati lingkungan hidup yang baik dan sehat, juga wajib memelihara serta mencegah dan menanggulangi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.

Dalam memanfaatkan lahan untuk pertanian kadang-kadang kita hanya memikirkan tingkat produksi yang akan dicapai dari sebidang lahan tanpa memikirkan segi-segi kelestariannya. Pada akhirnya lahan tersebut makin lama kesuburannya makin berkurang bahkan mungkin rusak sama sekali dan tidak ada satu pun yang dapat diperoleh dari padanya. Dalam keadaan seperti ini lahan tersebut dikatakan sudah tidak  memiliki kemampuan untuk mendukung kehidupan yang ada di atasnya (Kritis).

Untuk memberikan perlakuan yang tepat terhadap lahan kritis, maka perlu diketahui kriteria-kriteria lahan kritis. Diantara kriteria-kriteria itu adalah :

  1. Lahannya sudah mengalami proses erosi yang berlangsung lama.
  2. Lapisan olahnya dangkal (kurang dari 20cm).
  3. Kapasitas menahan airnya rendah.
  4. Drainase jelek.
  5. Tanahnya sangat alkalis dan asin.
  6. Lahan yang tanahnya berbatu-batu.
  7. Daerah yang sering terkena banjir.
  8. Daerah-daerah yang masa tumbuh tanamannya singkat.

Untuk tujuan pengawetan tanah, maka perlakuan pengawetan tanah yang dapat dilakukan diantaranya :

  1. Pembuatan bangunan sipil teknis berupa terassering/sengkedan-sengkedan pada lahan yang miring.
  2. Penutupan lahan secara vegetasi tetap terutama pada lahan-lahan dengan kemiringan diatas 40%.
  3. Mulching atau penserasahan dengan menggunakan sisa-sisa tanaman.
  4. Pergiliran tanaman.
  5. Pengembalian sisa tanaman ke dalam tanah.
  6. Penanaman searah kontur, dan
  7. Pemupukan dengan menggunakan pupuk organik.
<-- footer -->