Ulti Clocks content
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini30
mod_vvisit_counterKemarin68
mod_vvisit_counterMinggu ini185
mod_vvisit_counterBulan ini1022
mod_vvisit_counterKeseluruhan38343

Login

Jadwal Shalat

BP4K Kabupaten Kuningan

HARI KRIDA PERTANIAN (HKP) TAHUN 2014 TINGKAT KABUPATEN KUNINGAN

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Terakhir Diperbaharui (Senin, 21 April 2014 13:31) Ditulis oleh Bidang PSD Senin, 21 April 2014 13:25

I.    PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hari Krida Pertanian (HKP) merupakan hari bersyukur, berbangga hati, mawas diri, dharma bakti dan penghargaan bagi mayarakat tani sebagai kelompok masyarakat terbesar dari penduduk Kabupaten Kuningan.  Sektor pertanian memberikan kontribusi dalam memproduksi berbagai jenis bahan pangan, baik pangan yang berasal dari tanaman pangan, perkebunan dan kehutanan sebagai sumber pangan nabati maupun pangan yang berasal dari peternakan dan perikanan sebagai sumber pangan hewani.

Selanjutnya: HARI KRIDA PERTANIAN (HKP) TAHUN 2014 TINGKAT KABUPATEN KUNINGAN

 

Panen dan Pasca Panen Jagung

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Terakhir Diperbaharui (Selasa, 30 November 1999 07:00) Ditulis oleh Yoyo Suryaka Selasa, 18 Maret 2014 12:21

 Panen dan Pasca Panen Jagung Hibrida

Ditulis oleh : Yoyo Suryaka, S.Pt (PPL UPT BP3K Cibingbin)

 Wilayah UPT BP3K Cibingbin yang terdiri dari Kecamatan Cibingbin (Desa Citenjo, Cisaat, Dukuhbadag dan Bantarpanjang) dan Kec. Cibeureum (Desa Cibeureum, Desa Tarikolot, Sukadana dan Randusari) merupakan salah satu sentra penghasil jagung hibrida di Kabupaten Kuningan. 

 Budidaya Memanen pada saat yang tepat merupakan hal yang cukup penting guna mempertahankan kualitas dan kuantitas hasil jagung. Umur panen jagung sangat tergantung dari varietas yang digunakan serta tinggi tempat jagung ditanam, dalam arti bahwa makin tinggi tempat maka umur panen akan l ebih lam. Umur panen jagung berkisar antara 80 - 140 hari. Tanda-tanda umum saat panen jagung yang tepat atau siap dipanen ditandai dengan terbentuknya lapisan hitam di ujung biji dan kulit tongkol (klobot) berwarna kuning mengering, biji tampak mengkilat dan bila ditekan dengan kuku biji jagung tersebut tidak berbekas. Panen dilakukan dengan cara memetik.

Penanganan Pasca Panen

Penanganan pasca panen jagung meliputi serangkaian kegiatan pengupasan, pengeringan, sortasi, pemipilan dan penyimpanan.
Pengupasan

Jagung hasil panen masih terbungkus klobot. Untuk itu, setelah dipanen, sebaiknya jagung segera dikupas dan dibersihkan dari rambut. Pengupasan ini bertujuan agar kadar air tongkol jagung menurun sehingga terhindar dari pertumbuhan jamur pada tongkol dan biji jagung yang baru dipanen. Selain itu, pengupasanpun dapat mempercepat proses pengeringan. Namun, ada pula petani yang mengupas jagung dengan menyisakan kelobotnya sebagai pengikat saat proses pengeringan.
Pengeringan Tongkol Jagung
Prinsip pengeringan adalah mengeluarkan air dari bahan sampai tercapai kadar air yang aman untuk disimpan. Sementara tujuan utama pengeringan adalah untuk mencegah kerusakan. Beberapa keuntungan melakukan pengeringan adalah meningkatkan daya simpan, mempertahankan viabilitas benih, menambah nilai ekonomis, memudahkan pengolahan lebih lanjut, serta memudahkan dan mengurangi biaya transportasi.
Berdasarkan sumber energinya, pengeringan pada jagung dapat dibedakan menjadi pengeringan alami dan pengeringan buatan.

a. Pengeringan alami
 Pengeringan alami merupakan pengeringan yang dilakukan dengan bantuan sinar matahari (penjemuran). Cara pengeringan ini cukup mudah dan biayanya murah. Namun, kendalanya adalah jika cuaca tidak memungkinkan maka proses pengeringan akan berlangsung tidak sempurna dan memerlukan waktu lama. Pengeringan pada musim hujan memakan waktu 7-14 hari dan pada musim kemarau antara 3-7 hari.
 Agar diperoleh hasil pengeringan yang baik, sebaiknya disediakan areal pengeringan yang cukup luas. Hal ini dikarenakan jagung yang akan dikekringkan tidak boleh ditumpuk. Teknis penjemuran dapat dilakukan pada lantai jemur, alas anyaman bambu, tikar, atau dengan cara digantung untuk tongkol yang masih ada kelobotnya. Pengeringan di lantai jemur sering menghasilkan biji retak. Selain dengan cara dijemur di panas matahari, ada sebagian petani yang melakukan pengeringan denga cara diasap. Cara pengeringan ini biasanya dilakukan di para-para diatas dapur. Untuk mengeringkan jagung dalam jumlah banyak, cara pengeringan ini kurang efektif diterapkan, kecuali kalau sumber asapnya dibuat khusus seperti dari pembakaran sekam, tongkol jagung, kayu, atau bahan yang lain.
Pengeringan tongkol jagung dilakukan hingga kadar air mencapai 17-20%. Pada kadar air ini, jagung mudah dipipil tanpa menimbulkan banyak kerusakan.
b. Pengeringan buatan
Pengeringan buatan adalah pengeringan yang dilakukan dengan bantuan alat mekanis. Penerapan cara ini untuk mengantisipasi kalau terjadi hari hujan terus menerus. Beberapa jenis alat pengering yang biasa digunakan adalah omprongan, alat pengering dengan aerasi, dan alat pengering tipe continuous.
Sortasi
Sortasi dilakukan untuk memisahkan tongkol jagung yang berukuran besar dengan yang kecil, berbiji rapat dengan jarang atau rusak, berwarna seragam putih atau kuning dengan yang tidak seragam, serta sudah masak dengan belum masak. Untuk memisahkan biji yang berukuran besar dan kecil dapat dilakukan setelah pemipilan.
Pemipilan
Salah satu kegiatan yang kritis dalam penanganan pascapanen di tingkat petani adalah pemipilan karena kehilangan hasil pada tahap ini dapat mencapai 4%. Pemipilan merupakan kegiatan melepaskan biji dari tongkol, memisahkan tongkol, dan memisahkan kotoran dari jagung pipilan. Tujuannya adalah untuk menghindarkan kerusakan, menekan kehilangan, memudahkan pengangkutan, dan memudahkan pengolahan selanjutnya. Oleh karenanya, sebaiknya pemipilan dilakukan pada saat yang tepat, yaitu saat kadar air jagung berkisar 17-20%. Penjemuran dalam bentuk pipilan memakan waktu 2-4 hari pada musim hujan dan 1-2 hari pada musim kemarau.

 Pemipilan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara tradisional dan bantuan alat.

a. Pemipilan secara tradisional
 Petani di pedesaan masih banyak memipil jagung secara tradisional, yaitu dengan menggunakan tangan. Dengan cara ini, kapasitas pipilnya hanya sekitar 10-2- kg/jam. Meskipun kapasitasnya kecil, namun cara pemipilan ini cukup efektif dalam memisahkan tongkol dengan kotoran lain. Selain itu, kerusakan yang ditimbulkan relative kecil.  Selain dengan tangan, pemipilan tradisional yang lain adalah pemukulan jagung pada karung dengan tongkat. Kapasitas pipilan jagung pada cara ini dapat ditingkatkan, tetapi kerusakan mekanis yang ditimbulkan lebih besar. Kerugian lainnya adalah biji yang hilangpun meningkat karena banyak yang tertinggal pada tongkol.
b. Pemipilan dengan alat.
 Pemipilan jagung dengan bantuan alat dapat dilakukan baik dengan alat sederhana maupun bermesin. Pemipilan dengan alat bermesin umumnya dilakukan petani dengan cara menyewa mesin pemipil jagung yang dioperasikan di lahan penanaman atau dirumah-rumah petani. Kapasitas pemipilan cara ini mencapai 1-2 ton/jam. Berbagai tipe alat pemipil yang tersedia di pasaran diantaranya Kikian, Pemipil tipe Sulawesi Utara, Pemipil Sederhana tipe silinder, pemipil tipe mungil, pemipil tipe ban, dll. 
   

Pengujian Hara Tanah dengan PUTS

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Terakhir Diperbaharui (Senin, 03 Maret 2014 13:57) Ditulis oleh Administrator Senin, 03 Maret 2014 12:05















   

PEMBENTUKAN KELOMPOKTANI DI DESA MUNCANGELA KECAMATAN CIPICUNG KABUPATEN KUNINGAN

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Terakhir Diperbaharui (Selasa, 25 Februari 2014 14:06) Ditulis oleh Deni Yuliandra, SP. Selasa, 25 Februari 2014 14:01

Jum’at, 21 Februari 2014 Para petani Blok Kliwon Desa Muncangela Kecamatan Cipicung Kabupaten Kuningan mengadakan pertemuan yang bertempat di blok kliwon dalam rangka pembentukan kelompoktani. Keinginan untuk pembentukan kelompoktani berasal dari aspirasi para petani sendiri mengingat selama ini para petani di blok kliwon dalam usahataninya berjalan sendiri-sendiri tidak ada yang mengkoordinar secara kelembagaan tani. Pada kesempatan tersebut terlihat antusias para petani untuk mengikuti pertemuan tersebut hal ini dapat dilihat dari tingkat kehadiran petani. Pembentukan atau penumbuhan kelompoktani sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 82/Permentan/OT.140/8/2013 Lampiran I tentang Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Kelompoktani dan Gabungan Kelompoktani. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala BP3K Ciawigebang beserta Tim, Kepala Desa beserta aparat desa lainnya.

Selanjutnya: PEMBENTUKAN KELOMPOKTANI DI DESA MUNCANGELA KECAMATAN CIPICUNG KABUPATEN KUNINGAN

   

Kunjungan Kerja Kepala Badan PPSDMP Ke BP3K Cilimus, Kab. Kuningan

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Terakhir Diperbaharui (Jumat, 21 Februari 2014 14:57) Ditulis oleh Ir. Hj Niknik Rusnikasyari Jumat, 21 Februari 2014 14:33

Dalam rangka meninjau pelaksanaan penyuluhan ditingkat kecamatan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) , Dr. Ir. Winny Dian Wibawa, M.Sc. untuk pertama kali melaksanakan kunjungan kerja ke Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Cilimus, Kabupaten Kuningan pada hari Kamis, 20 Februari 2014. Dalam kunjungannya Kepala Badan didampingi oleh Sekretaris BPPSDMP, Dr. Ir. H. Momon Rusmono,MS., dan beberapa staf BPPSDMP.

Selanjutnya: Kunjungan Kerja Kepala Badan PPSDMP Ke BP3K Cilimus, Kab. Kuningan

   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

<-- footer -->